by Raditya Dika
Dalam menulis sebuah entry blog yang asyik, kita dapat menggunakan elemen-elemen penulisan kreatif yang kebanyakan dipelajari untuk membuat sebuah karangan fiksi. Di bawah ini saya mencoba untuk memberikan tiga elemen penulisan kreatif yang bisa diaplikasikan dalam membuat sebuah entry blog yang menarik.
1. First Sentences yang Menarik
Let’s face it. Di dalam ranah dunia internet, kita semua somewhat terkena ADD (attention disorder deficit). Pembaca punya attention span yang rendah. Jika mereka tidak suka dengan blog kita mereka bisa dengan mudah langsung pindah ke website lain dengan satu kali klik.
Nah, inilah mengapa kita perlu first sentence yang punya dahsyat di dalam entry kita.
Di dalam dunia perbukuan dan menulis, semua buku yang baik punya first sentences yang engaging untuk membawa pembaca larut ke kalimat-kalimat selanjutnya sampai buku tersebut habis. Di dalam dunia blog, entry Anda juga harus punya first sentences yang cihui agar orang tercantol dalam waktu singkat.
Apa yang terjadi jika Anda tersasar ke sebuah blog dan kalimat pertama yang Anda baca seperti ini:
“Gue pagi ini bangun terus gue mandi. Ke sekolah lagi. Males deh.” Kemungkinan besar, Anda berpikir “Yeah, diary anak sekolahan lagi. Biasa banget. Males ah.” Lantas Anda menutup browser tersebut.
Bandingkan jika Anda tersasar ke sebuah blog dan rangkaian kalimat yang pertama Anda baca seperti ini:
“Untuk pertama kalinya saya akan bercerita tentang sejarah “Seratus” dalam hidup saya. Bukan karenacerita itu teramat penting dan besar, tapi justru karena keremehannya yang luar biasa.”Saya, begitu membaca first sentences barusan akan berpikir, “Apa sih ‘seratus’ ini? Seberapa remeh dia?” Selanjutnya, saya membaca tulisan tersebut sampai habis. Tulisan yang kedua, saya kutip dari blog Dewi Lestari.
Kecermatan dan kepiawaian kita untuk membuat first sentences yang menarik akan membuat pembaca tergelitik untuk membaca kalimat-kalimat berikutnya. Setelah itu, Anda hanya perlu konsisten untuk membuat kalimat-kalimat berikutnya bisa sebaik kalimat yang pertama Anda buat.
Ingat, tulisan Anda harus punya hook. Anda harus punya sesuatu yang merangsang rasa penasaran sekaligus keinginan pembaca yang tiba-tiba tersasar. Tanyakan ini pada diri Anda sendiri: “Jika gue nyasar ke blog gue sendiri dan ngebaca kalimat pertama ini, gue bakal mau baca sampe abis gak ya?”
2. Buatlah Tulisan yang Ekonomis
Robert McKee, seorang lecturer dalam bidang penulisan, pernah berkata “90% of first drafts is shit”. Ini berarti, kebanyakan, tulisan yang pertama Anda buat pertama kali adalah jelek. Tulisan dalam sebuah first draft adalah tulisan yang tidak terstruktur, patah-patah, dan lepas dari otak Anda begitu saja. Kemungkinan besar, tulisan di draft pertama Anda juga adalah tulisan yang verbosal, yaitu tulisan yang terlalu boros kata-kata dan tidak ekonomis.
Nah, sebelum Anda mengklik tombol “post” itu, coba cek kembali apa yang telah Anda tulis. Apakah penggunaan kalimatnya sudah logis? Cek kembali logika kalimat yang salah. Cek kembali ejaan, atau terminologi yang benar. Bunuh semua kata yang tidak perlu. Tulisan yang baik adalah tulisan yang tight: kencang dan sempit. Perhatikan pacing tiap kalimat. Kata demi kata. Apakah tulisan Anda punya tempo yang enak untuk diikuti? Tulisan yang baik adalah tulisan yang seperti musik, ada tempo teratur, ada jeda untuk menarik napas, ada nada yang mengalir.
Baca kembali first draft Anda sebagai seorang pembaca, cek dulu apakah diksi yang Anda gunakan tidak redundan. Misalnya, Anda menemukan kalimat: “gue pergi ke rumah gue pas adek gue pulang dari kampus malem-malem”, ini jelas redundan. Coret semua kata “gue” hingga kalimatnya lebih efektif dan ekonomis, menjadi: “Gue pergi ke rumah, pas adek pulang dari kampus.”
Seperti yang kebanyakan orang bilang, first draft ditulis hanya untuk “mengeluarkan apa yang ada di kepala”. Draft kedua ditulis untuk “memperbaiki apa yang sudah ditulis.” Dan draft ketiga untuk “membuat tulisannya bersinar”. Jangan terburu-buru dalam menulis sebuah tulisan, buatlah menjadi semenarik mungkin.
3. Menemukan dan Menggunakan Voice Anda Sendiri
Pernahkah Anda mengangkat telepon, dan hanya dari mendengar suara orang tersebut Anda mengenali siapa yang sedang berbicara dengan Anda? Setiap manusia diciptakan dengan warna suara yang berbeda-beda. Apa yang cempreng, ada yang berat/husky, ada yang kayak orang kejepit. Apa pun itu, warna suara dapat membedakan antara satu orang dengan orang yang lain.
Seperti halnya dengan dunia penulisan, setiap penulis yang baik pasti punya “voice”-nya sendiri. Anda tahu bagaimana gaya khas Hilman Hariwijaya dalam menulis. Anda tahu, bagaimana tulisan Gunawan Muhammad ketika Anda membacanya. Atau bahkan, Anda bisa menebak diksi (kosakata) apa yang biasanya ada dalam esai-esai politik Eep Saefuloh Fatah. Gaya menulis Djenar Maesa Ayu, gaya Ayu Utami, mereka punya gaya yang khas. Semua penulis tadi punya voice yang begitu khas sehingga orang tahu, begitu membaca tulisan mereka, itu adalah tulisan mereka.
Cara paling gampang untuk tahu apakah Anda sudah punya voice atau belum: jika ibu Anda membaca tulisan Anda, tanpa diberitahu bahwa itu adalah milik Anda, dan dia bisa bilang, “Wah, ini tulisan anak saya.” Berarti selamat, Anda sudah punya voice.
Voice yang khas membantu kita untuk mendeferensiasikan diri dari penulis yang lain. Dalam menulis blog, voice yang khas juga akan membuat kita terlihat berbeda dari penulis blog-blog yang lain. Punya voice akan memisahkan kita dari “blogger lainnya” menjadi “blogger yang itu tuh, yang tulisan begini nih…”. Ndoro Kakung, misalnya masuk ke dalam contoh blogger yang punya voice yang sangat khas.
Lantas, bagaimana cara menemukan voice kita sendiri? Jawabannya sederhana: banyak membaca dan berlatih. Dengan membaca banyak buku yang ditulis penulis lain, sambil menganalisa-nya, kita akan dengan sendirinya mengadaptasi gaya-gaya mereka untuk memperkuat personality dan voice kita sendiri. Mengadaptasi, tentu saja, bukan berarti mencuri.
Layaknya Nidji yang mengagumi britpop, terutama Coldplay, sampai akhirnya bisa menemukan kekhasan aliran lagu miliknya sendiri, mereka berhasil membuat voice yang khas pada karya-karyanya. Atau layaknya Tohpati yang pada awalnya mendengarkan pilihan-pilihan nada yang dimainkan gitaris John Scofield, pada akhirnya Tohpati memelajari dan mengadaptasi permainan gitar orang lain hingga akhirnya dia menemukan sebuah gaya yang uniquely his.
Pelajari bagaimana kekuatan Haruki Murakami dalam mengkonstruksi sebuah dialog, pelajari narasi Chuck Palahniuk yang minimalistik dan maskulin, pelajari bagaimana Hilman Hariwijaya menggiring orang untuk tertawa. Satukan apa yang telah Anda pelajari, tanamkan dalam-dalam dalam diri Anda, dan keluarkan personality Anda sendiri. Keluarkan voice Anda.
Dengan banyak membaca Anda akan mendapatkan banyak referensi. Di samping itu, dengan banyak berlatih Anda akan tahu cara penyampaian seperti apa yang paling asik untuk Anda. Anda akan memilih diksi yang paling mewakili gaya tulisan Anda. Menulis dan berlatih, dan jadilah berbeda dari orang-orang yang lain.
Tentu saja, tiga elemen di atas hanya sebagian kecil contoh bagaimana kita menggunakan elemen penulisan kreatif untuk membuat postingan blog kita menjadi lebih baik. Masih banyak elemen-elemen lain: komposisi narasi vs dialog, deskripsi yang efektif, setting dan konteks, dan lain-lain.
Sumber dari sini
Thursday, November 5, 2009
Friday, October 30, 2009
Catatan 30 Okt 09: Memetik Ide Ituh...
Niatan saya menuliskan hal-hal sederhana berangkat dari keinginan berbagi saja. Tidak ada yang lebih. Makin berbagi, saya makin kaya. Kaya teman, kaya doa, kaya ide.
Lalu ada satu dua yang bilang: “Bu, saya suka tulisannya.”
Saya pun manggut-manggut saja. Toh kalau ada rona malu, partner bicara saya tak akan tahu perubahan di muka saya. Biasanya saya akan menawarkan balik agar siapapun yang memberi apresiasi terhadap tulisan itu berbagi hal yang sama. Menuliskan cerita-cerita sederhana di kehidupan mereka.
Jawabnya?
Saya pengen, tapi…
Mau sih, cuma….
Tidak bisa nulis
Tidak ada waktu
Suka bacanya aja
Tidak ada yang bisa dibagi,
Mau share apa ya?
Blank.
Tidak ada ide!
Saya senyum-senyum saja. Kalau diurutkan, bisa lebih panjang lagi alasannya. Yang paling sering adalah tidak ada ide. Padahal, ide itu seperti udara. Ada di mana-mana. Tapi seringkali kita mengabaikannya. Kalau kejepit suasana, baru teriak-teriak: siapa yang jual ide? Dibeli: sebuah ide dengan harga mahal.
Alam raya ini luar biasa. Ide yang tak pernah habis digali. Keindahan yang tak pernah kering dinikmati. Rumah yang tak pernah sepi ditinggali. Sahabat yang setia memberi energi. Anda pasti setuju.
Kalau nunggu ide datang persiapannya: kopi, musik, suasana tenang, punggung yang tak mau tegak, gelisah yang tak mau pergi, rambut yang diacak, mulut yang seperti terkunci. Yang ada: seandainya…seandainya… seandainya.
Ah, kayak menunggu godot saja.
Benarkah ide itu jauh dan tersembunyi?Tidak bisa dijangkau dan tak mungkin direngkuh? Tidak bisa hadir, kini dan saat ini?
Aku tidak pernah pelit. Saya yakin kamu juga. Lebih-lebih alam. Alam tidak pelit. Ada cahaya, ada suara, ada tangis, ada buncah tawa, ada aku, kamu dan kita.
Benarkah kita tanpa ide? Buka laptop, ide sudah dipanen. Keluar rumah, ide sudah bermunculan. Ketemu orang, benih-benih ide bersemai. Gendong anak, lahir ide. Sambil masak, ide pun matang.
Tapi seringkali kita sibuk dengan alasan. Dan lupa bahwa otak kita canggih dan sangat pintar. Jadi percaya saja pada kemampuan kita. Ini tidak hanya untuk menulis. Aplikasinya bisa ke: ide masak, ide marketing, ide kerjaan, ide olah raga, ide perkawanan, ide jejaring.
Kata temanku, ide itu gratis. Orang cerdas memetiknya secara gratis. Sekaligus menanam, supaya orang lain kebagian pula. Alam raya menyediakannya secara melimpah. Ide melimpah, tapi kreator sedikit.
Jadi, apakah ide itu muncul secepat kita memencet odol (pasta gigi)? Anda tahu jawabnya. Mari panen ide, berkarya dan nyatakan.
Selamat menuai ide.
---------------
sumber dari sini
Lalu ada satu dua yang bilang: “Bu, saya suka tulisannya.”
Saya pun manggut-manggut saja. Toh kalau ada rona malu, partner bicara saya tak akan tahu perubahan di muka saya. Biasanya saya akan menawarkan balik agar siapapun yang memberi apresiasi terhadap tulisan itu berbagi hal yang sama. Menuliskan cerita-cerita sederhana di kehidupan mereka.
Jawabnya?
Saya pengen, tapi…
Mau sih, cuma….
Tidak bisa nulis
Tidak ada waktu
Suka bacanya aja
Tidak ada yang bisa dibagi,
Mau share apa ya?
Blank.
Tidak ada ide!
Saya senyum-senyum saja. Kalau diurutkan, bisa lebih panjang lagi alasannya. Yang paling sering adalah tidak ada ide. Padahal, ide itu seperti udara. Ada di mana-mana. Tapi seringkali kita mengabaikannya. Kalau kejepit suasana, baru teriak-teriak: siapa yang jual ide? Dibeli: sebuah ide dengan harga mahal.
Alam raya ini luar biasa. Ide yang tak pernah habis digali. Keindahan yang tak pernah kering dinikmati. Rumah yang tak pernah sepi ditinggali. Sahabat yang setia memberi energi. Anda pasti setuju.
Kalau nunggu ide datang persiapannya: kopi, musik, suasana tenang, punggung yang tak mau tegak, gelisah yang tak mau pergi, rambut yang diacak, mulut yang seperti terkunci. Yang ada: seandainya…seandainya… seandainya.
Ah, kayak menunggu godot saja.
Benarkah ide itu jauh dan tersembunyi?Tidak bisa dijangkau dan tak mungkin direngkuh? Tidak bisa hadir, kini dan saat ini?
Aku tidak pernah pelit. Saya yakin kamu juga. Lebih-lebih alam. Alam tidak pelit. Ada cahaya, ada suara, ada tangis, ada buncah tawa, ada aku, kamu dan kita.
Benarkah kita tanpa ide? Buka laptop, ide sudah dipanen. Keluar rumah, ide sudah bermunculan. Ketemu orang, benih-benih ide bersemai. Gendong anak, lahir ide. Sambil masak, ide pun matang.
Tapi seringkali kita sibuk dengan alasan. Dan lupa bahwa otak kita canggih dan sangat pintar. Jadi percaya saja pada kemampuan kita. Ini tidak hanya untuk menulis. Aplikasinya bisa ke: ide masak, ide marketing, ide kerjaan, ide olah raga, ide perkawanan, ide jejaring.
Kata temanku, ide itu gratis. Orang cerdas memetiknya secara gratis. Sekaligus menanam, supaya orang lain kebagian pula. Alam raya menyediakannya secara melimpah. Ide melimpah, tapi kreator sedikit.
Jadi, apakah ide itu muncul secepat kita memencet odol (pasta gigi)? Anda tahu jawabnya. Mari panen ide, berkarya dan nyatakan.
Selamat menuai ide.
---------------
sumber dari sini
catatan pendahuluan
Menulis itu pekerjaan gampang-gampang susah. Kadang banyak ide tapi nggak ada waktu, kadang ada waktu nggak ada ide, kadang ada ide ada waktu tapi nggak ada tools yang tepat.
Then here we goes, ini adalah blog yang saya buat, tentang menulis. Tulisannya saya dapat dari blogwalking, dan tentunya, saya akan mencantumkan alamat url asli darimana tulisan itu didapat.
Then here we goes, ini adalah blog yang saya buat, tentang menulis. Tulisannya saya dapat dari blogwalking, dan tentunya, saya akan mencantumkan alamat url asli darimana tulisan itu didapat.
Subscribe to:
Comments (Atom)